RENUNGAN HOMILI HARI MINGGU ADVENT KEDUA, 7 DESEMBER 2025
December 12, 2025
Hari Minggu Advent Kedua
7 Desember 2025
Injil Matius 3:1–12
Homili: RP. Agustinus Sugiyanto, CM
Dalam Bacaan Pertama (Yes 11:1-10), Nabi Yesaya menubuatkan hadirnya seorang Tunas dari tunggul Isai, tanda bahwa Allah sedang memulai hidup yang baru bagi umat-Nya. Tunas yang kecil itu membawa damai, menghadirkan keadilan, dan menata kembali cara hidup umat manusia. Dunia yang tadinya penuh perselisihan dan saling memangsa digambarkan berubah menjadi dunia yang damai. Serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, lembu dan beruang makan bersama. Semua gambaran ini menandakan bahwa kedatangan Mesias pasti membawa pembaruan besar—pembaruan yang memulihkan, menenangkan, dan menghadirkan damai bagi siapa pun yang berharap kepada-Nya.
Minggu Adven II mengajak kita untuk masuk dalam semangat pembaharuan itu. Sama seperti lilin-lilin Advent yang dinyalakan satu demi satu, kita pun dipanggil untuk bergerak setahap demi setahap menuju terang Kristus. Pembaharuan bukan sekadar anjuran, tetapi sebuah keharusan yang tidak boleh ditunda. Terang Allah semakin mendekat dan kita diajak untuk semakin siap menyambut-Nya.
Dalam Bacaan Injil (Mat 3:1-12), Yohanes Pembaptis tampil dengan seruan yang sangat tegas:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Seruan ini bukan hanya ajakan untuk
pertobatan pribadi, tetapi pertobatan bersama sebagai satu umat Allah. Orang-orang dari
seluruh daerah Yudea datang berbondong-bondong untuk dibaptis, mempersiapkan jalan bagi
Tuhan yang akan segera memasuki hidup mereka. Melalui seruan ini, kita pun diajak untuk
memeriksa hati, meninggalkan cara hidup lama, dan membuka diri pada pembaharuan sejati
yang membawa kita semakin dekat pada terang Kristus.
Pertobatan sangat mendesak. Yohanes menggambarkannya dengan simbol yang kuat. Kapak sudah
tersedia pada akar pohon. Alat penampi sudah di tangan. Artinya waktu untuk berubah adalah
sekarang, bukan nanti. Bila pertobatan ditunda, berkat Tuhan bisa berlalu begitu saja. Maka
Adven menjadi waktu yang istimewa untuk memperbaiki diri, memperbarui cara hidup, dan
menyingkirkan segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Allah.
Paulus dalam Bacaan Kedua mengajak umat untuk hidup rukun dan bersatu hati, memuliakan
Allah dengan satu suara. Hidup damai bukan hanya ideal, tetapi tugas nyata umat yang
menantikan kedatangan Tuhan. Kita diminta untuk menerima satu sama lain, sebagaimana
Kristus telah menerima kita, dan bersama-sama bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu masa Adven bukan masa penantian pasif. Kita diajak untuk menata ulang hati,
membenahi hidup, membuang dosa-dosa yang berbau busuk, dan mempersiapkan hati agar layak
menyambut Sang Raja Damai. Jangan sampai Yesus datang dan mendapati hati kita seperti
kandang yang kotor, tetapi seperti rumah yang telah dibersihkan dan siap bagi-Nya.
Dengan mengarahkan kepala dan hati kepada Allah, kita mempersiapkan diri untuk menyambut
Kristus yang datang membawa damai dan sukacita. Semoga pada minggu-minggu Adven berikutnya
kita semakin dikuatkan untuk hidup dalam terang Allah, hingga akhirnya kita layak menyambut
Sang Juru Selamat dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan penuh sukacita.