HOMILI PERAYAAN KENAIKAN TUHAN YESUS, Kamis 14 Mei 2026

May 16, 2026


Homili Mingguan

HOMILI PERAYAAN
KENAIKAN TUHAN YESUS

Bacaan Injil

Matius 28 : 16-20

Dipimpin Oleh

RP. Y.T.M. Puji Nurcahyo, CM

Hari ini adalah hari keempat puluh setelah Paskah. Ketika dikatakan Yesus naik ke surga, artinya memang Yesus berasal dari surga. Dan inilah keyakinan kita bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah. Sejak semula Dia adalah mulia dan setelah menyelesaikan tugas-Nya, Dia kembali kepada kemuliaan Bapa. Yesus menegaskan kepada Para Murid dengan berkata, “Kepada-Ku diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Yesus adalah sungguh-sungguh Allah, sungguh-sungguh manusia. Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Tritunggal, Allah yang Esa.

Lalu bagaimana implikasi dan dampak dari kenaikan Tuhan Yesus ke surga bagi kita?

Pada saat Yesus diangkat ke surga, Dia memberikan sebuah perintah yang tegas, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Aku perintahkan kepadamu.”

Hidup Sebagai Kesaksian

Kenaikan Yesus ke surga berdampak kepada gereja, karena kita jemaat gereja ini adalah TUBUH KRISTUS. Kita adalah anggota tubuh Kristus, dimana Yesus adalah kepala yang mulia, maka tubuhnya yaitu kita juga menjadi mulia. Karena itu Tuhan mengajak kita untuk mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Yang Mulia. Kita sebagai bagian dari yang mulia diajak untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, jangan hidup dengan cara hidup yang sekadar duniawi, hiduplah dengan cara yang Ilahi. Maka kita akan mengambil bagian bersama Yesus Kristus sebagai kepala kita yang Ilahi.

Hendaklah kita hidup dan fokus dalam kesaksian, dimana seluruh kehidupan sehari-hari kita isi dengan kesaksian. Sebagai seorang Katolik, kita menggunakan setiap kegiatan dan aktifitas keseharian kita sebagai kesempatan untuk menjadi saksi Kristus, untuk jujur, beriman, patuh kepada Allah, peduli kepada sesama terutama kaum miskin, bersedia hidup dalam pelayanan, saling mengasihi dan membangun relasi yang baik antara pasangan suami dan istri dengan saling mengampuni, saling mendengarkan, dan setia.

Hidup dalam komunitas atau organisasi dengan memberikan masukan-masukan yang baik, menjadi teladan bagi orang lain, berbagi bukan hanya materi tapi juga pengalaman hidup. Intinya seluruh hidup kita adalah kesaksian, bahwa Allah Tritunggal selalu bersama kita. Allah itu hidup dan sungguh hadir.

Tidak mudah dan dituntut pengorbanan, tapi tidak sebanding dengan pengorbanan Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Yesus mencintai kita dengan sepenuh hati-Nya.
Tuhan Menyertai Kita

Sebagai orang Katolik, ketika kita sungguh-sungguh ingin bersatu mengalami Allah dalam hidup kita, maka kita harus menerima semua tantangan untuk menjadi saksi Kristus. Tapi jangan kuatir karena Yesus menegaskan bahwa kita tidak akan sendiri dengan bersabda, “Ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman.”

Semua karya yang kita lakukan dalam hidup ini adalah berkat dari Tuhan, bukan semata-mata karena diri kita sendiri. Biarkan Tuhan bekerja dalam diri kita, biarkanlah Tuhan yang menggerakkan hidup kita.

Semoga Sabda Tuhan ini bergema di dalam hati kita dan menjadi kekuatan dalam hidup kita, amin.


Penulis

Petronela Yani