HOMILI HARI MINGGU PESTA PEMBERKATAN GEREJA BASILIK LATERAN 09 November 2025

November 13, 2025

HARI MINGGU PESTA PEMBERKATAN GEREJA BASILIK LATERAN

09 NOVEMBER 2025

BACAAN INJIL YOHANES 2 : 13-22

HOMILI : RP. AGUSTINUS SUGIYANTO, CM

Dalam Bacaan Injil, Yesus marah ketika didapati-Nya di dalam Bait Suci para pedagang lembu, kambing-domba dan merpati serta penukar-penukar uang duduk disitu.   Dengan cambuk atau cemeti Yesus mengusir mereka dan membalikkan meja-meja tempat mereka berjualan. Ketika orang-orang Yahudi memprotes tindakan Yesus itu, Yesus menjawab mereka dengan berkata, “ Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Orang-orang Yahudi itu tidak mengerti maksud dari perkataan Yesus. Mereka menganggap bahwa Bait Allah adalah sebuah bangunan belaka, sehingga mereka membandingkannya dengan ketika mereka membangun Bait Allah itu selama empat puluh enam tahun. Sebenarnya, Yesus berkata tentang tubuh-Nya sendiri, bahwa Dia akan mati dan tiga hari kemudian Dia akan bangkit.

Bait Allah adalah tempat kediaman Allah. Pedagang dan penukar uang yang berjualan di dalam Bait Allah menurut  Bacaan Injil Yohanes, dimaknai  sebagai memperjualbelikan iman dan kepercayaan kita kepada Allah.  Yesus marah akan hal itu, digambarkan dengan cambuk/ cemeti yang digunakan Yesus untuk mengusir mereka. Yesus meminta kita untuk tetap berpegang teguh kepada Allah dan mengikuti-Nya.

Dalam Bacaan Kedua ( 1 Korintus 3:11.16-17), Rasul Paulus menjelaskan bahwa kita adalah ladang Allah dan bangunan-Nya. Kita tempat kediaman Allah, dan dasar utama adalah Yesus Kristus. Bahwa kita adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita. Dan karena Bait Allah adalah kudus dan Bait Allah itu adalah kita, maka kita harus menjaganya dengan sungguh-sungguh. Seperti dalam Bacaan Pertama (Yeh 47 :1-2. 8-9.12), Yehezkiel menggambarkan bahwa malaikat menuntunnya mengelilingi Bait Suci. Air mengalir sehingga menjadi sumber kehidupan bagi ikan-ikan di sungai, menumbuhkan bermacam pohon yang menghasilkan buah, daunnya tidak pernah layu sehingga buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Bait Suci itu adalah Allah. Ketika kita mengikuti air yang mengaliri Bait Suci, seperti iman kita kepada Allah. Arah manapun yang menjadi tujuan, timur-utara-selatan-utara, Allah selalu hadir disitu. Ketika kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan arah hidup kita, yakinlah bahwa hidup akan menjadi bermakna karena karunia Allah bekerja di dalam diri kita.

Penulis : Petronela Yani