HOMILI HARI MINGGU PASKAH KE V, 3 Mei 2026
May 16, 2026
Renungan Mingguan
HOMILI HARI MINGGU PASKAH KE V
Bacaan Injil
Yohanes 14:1-12
Dipimpin Oleh
RP. Gregorius Kukuh Nugroho, CM
Kristus membawa kita melampaui kehidupan ini dan mengajak kita untuk mencapai kebahagiaan sejati. Ketika kita bisa merasakan damai sejahtera, tidak hanya dalam materi, tetapi juga rohani, mental, spiritual, itulaj kebahagiaan sejati.
Tidak hanya nanti pada masa kita semua berada dalam kerajaan surga, tetapi juga di bumi ini. Nah, caranya bagaimana? Bacaan-bacaan yang hari ini kita dengarkan menuntun kita untuk mencapai jalan itu. Maka kita harus bersyukur pada dua orang rasul yang kurang percaya. Bukan karena mereka tidak percaya, tetapi ketika mereka berani mengatakan ketidakpercayaan mereka, berani mengatakan keraguan mereka, Thomas dan Filipus menuntun kita pada sabda yang indah,
“Akulah jalan kebenaran dan hidup.”
Dan berikutnya, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Barang siapa percaya kepadaku akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang bahkan jauh lebih besar daripada yang dikerjakannya.”
Nah, persoalannya adalah apakah kita cukup percaya? Apakah Perayaan Ekaristi kita, doa novena kita, rosario kita menuntun kita semua untuk mencapai buah yang mendamaikan, buah yang membuat kita juga sejahtera secara fisik, secara materi.
Kita juga diundang tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi kemudian menjadi komunitas. Dari bacaan pertama kita juga diajak untuk melihat bahwa kita dipanggil tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk komunitas. Maka ini anak-anak komuni pertama, komuni bersama-sama ya artinya communion, komunitas berasal dari hal yang sama.Anak-anak ini tidak sendiri-sendiri lagi, tetapi menjadi bagian dari kerajaan Allah.
Perlu disiplin, perlu langkah bersama, perlu proses, tidak bisa langsung. Nah, ada persiapan komuni pertama, nanti kemudian ada persiapan Krisma, lalu kemudian nanti ada kursus persiapan perkawinan. Kita semua disiapkan untuk menuju yang terbaik bagi Tuhan.
Ada kisah seorang bapak yang berdoa bagi anaknya. Rupanya bapak ini menginginkan anak ini saat anak ini di dalam kandungan istrinya, ia mendoakan supaya dia menjadi imam, menjadi pastur. Tetapi saat dia besar, ketika dia ditanya setelah lulus SMA, dia tidak mau. Sungguh-sungguh tidak mau. Lalu Bapak ini berdoa supaya anak ini sungguh-sungguh terus mau belajar untuk melayani banyak orang. Dan syukurlah anak ini juga terus-menerus mau belajar untuk melayani banyak orang. Nama anak ini Ignatius Yonan. Ignasius Yonan menjadi direktur kereta api PT Kereta Api Indonesia. Seorang Katolik yang baik.
Kita juga diundang untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang. Dan di sinilah sebetulnya pesan Paskah kelima ini menjadi kebangkitan bagi kita semua. Tidak hanya hidup untuk makanan hari ini.
Maka bagi saya ada beberapa hal yang perlu kita kerjakan:
Pertama
kita perlu mengenal sumber keselamatan kita. Maka ini anak-anak ini dipersiapkan: diajak membaca kitab suci, diajak untuk terus-menerus berdoa, diajak untuk juga berkomunitas. Apakah kita juga mengenal, belajar terus-menerus mengenal Kristus yang mencintai kita? Apakah kita juga terus-menerus mengenal Kristus yang kita terima? Nanti anak-anak persiapan komuni pertama mereka akan menerima tubuh Kristus. Karena itu mereka juga perlu mengenal cinta Tuhan melalui orang tua.
Yang kedua
menapak bersama Tuhan. Menapak itu apa? Jejak kita. Jejak kita di mana pun berada dalam cinta Tuhan. Apakah kita di mana pun berada menunjukkan bahwa kita dicintai Tuhan? Orang yang dicintai pasti menunjukkan cintanya. Kalau kita dicintai Tuhan dan sadar bersyukur akan cinta Tuhan, kita akan membawa cinta Tuhan itu di mana pun. Saat koor, saat misdinar, saat melayani di tugas komsos, di mana pun berada, tapak cinta Tuhan itu tidak boleh sirna dari hidup kita.
Yang ketiga
Kristus adalah jalan kebenaran dan hidup. Apakah kita juga menghidupinya bagi diri kita sendiri? Orang yang kesepian itu bukan karena tidak ada orang lain dalam kehidupan ini, tetapi orang yang kesepian itu karena dia tidak tahu apa yang perlu bagi dirinya. Nah, sering kali kita juga tidak cukup beriman. Kita tidak cukup merasa kokoh dalam kehidupan iman kita. Karena itu, kita rupanya perlu tahu apa keperluan kita: menghidupi hidup Kristus.
Yang keempat
ruang aman. Apakah kita pertanyaan bagi kita semua mulai dari Misdinar, prodiakones, prodiakon, lektor, pemazmur, anak komuni pertama, koor, organis, komsos, dan juga pertanyaan bagi saya apakah di setiap langkah hidupku aku memberi ruang bagi sesamaku untuk tumbuh? Kita ingin berbuah. Tetapi apakah kita juga sadar untuk berbuah kita juga perlu melakukan penyerbukan bagi orang lain? Apakah kehadiran kita memberi positif di mana pun kita berada? Apakah setiap kehadiran kita itu dirindukan bukan karena kita negatif, tetapi karena setiap kehadiran kita memberi dampak yang mendamaikan.
Hari ini adalah hari kebangkitan bagi kita. Kristus akan sungguh-sungguh menjadi kekuatan bagi kita. Amin bagi kita, jika kita mengenal, menapai jejak-Nya, menghidupinya setiap hari dan memberi ruang tumbuh bagi sesama kita. Tuhan memberkati kita
Penulis