Homili Hari Minggu Biasa XV(Misa Penerimaan Sakramen Krisma)

July 24, 2025

 

“Berjalan Bersama dan Peduli: Refleksi Sosial dalam Semangat Iman”

Monsinyur dalam khotbahnya ini mengangkat refleksi dari kutipan Injil yang pernah dibacakan saat Paus Fransiskus mengunjungi Masjid Sikal. Ia memulai dengan menyampaikan bahwa kisah Injil tentang imam dan petugas rumah ibadat yang tidak peduli pada orang yang terluka, masih sangat relevan hari ini. Ketidakpedulian itu kini hadir dalam bentuk ketidakadilan sosial: pengangguran, penindasan, kemiskinan, dan pembiaran terhadap penderitaan orang kecil.

Beliau membagikan pengalaman pribadinya saat menyusuri daerah pedalaman Kalimantan—melihat langsung warga kampung yang terpinggirkan akibat tambang emas ilegal dan eksploitasi sumber daya. Warga lokal hanya menerima sisa-sisa (ibarat “kulitnya saja”), sementara pihak luar yang mengeruk keuntungan besar. Ia menyebut ini sebagai ironi: daerah kaya sumber daya, namun rakyatnya miskin dan tersingkir.

Dalam kehidupan sehari-hari, Monsinyur juga aktif membantu mereka yang membutuhkan. Ia menceritakan kisah seorang gadis kampung korban penipuan pacarnya, yang kini hidup sebagai ibu tunggal sambil berjualan seadanya demi bertahan. Meski tidak kaya, beliau tetap menyempatkan memberi bantuan kecil—seperti memberi angpau saat ke kampung, atau membantu mengurus surat-surat penting. Ia percaya bahwa hal-hal kecil bisa memberi dampak besar bagi orang lain jika dilakukan dengan hati.

Monsinyur mengajak kita untuk menyadari bahwa tidak semua bentuk bantuan harus materi. Menyapa, menghibur, menemani, mendoakan—semua itu juga bentuk kepedulian yang nyata. Ia menekankan bahwa berjalan bersama dengan orang kecil adalah panggilan semua pengikut Kristus, terutama di tahun Yubelium ini, di mana umat diajak untuk menjadi berkat bagi sesama.

Ia menyayangkan bahwa dalam tradisi gereja pun, sering kali yang diprioritaskan adalah “yang besar”, yang kaya dan aman, sementara orang miskin kerap diabaikan. Bahkan saat Paus berencana ke Indonesia, Kalimantan sempat tidak dilirik dengan alasan keamanan dan kesiapan. Namun Monsinyur menyuarakan bahwa banyak umat kecil di Kalimantan dan Papua yang justru lebih membutuhkan kehadiran sang pemimpin rohani, sebagai bentuk kehadiran Gereja yang menyeluruh dan merangkul semua.

Ia menutup dengan mengutip ajaran lama seorang guru imam: ā€œJangan hanya di altar, turunlah ke pasar.ā€ Artinya, iman sejati tidak hanya dilaksanakan dalam ibadah formal, tapi juga di tengah kehidupan nyata di mana banyak orang sedang berjuang, terluka, dan berharap.

Di akhir, beliau memberikan pesan penting: bahwa semua orang punya peran dan kemampuan untuk peduli, sekecil apa pun. Ia menegaskan bahwa Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian kita, tetapi ketulusan hati kita.

Pesan Penutup:

ā€œKamu mungkin tidak punya uang, tapi kamu pasti punya hati. Maka, pakailah hatimu untuk membantu sesama.ā€