HOMILI MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA,1 Januari 2026
January 12, 2026
✨ HOMILI MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA ✨
📖 Bacaan Injil: Lukas 2:16–21
⛪ Pemimpin Misa: RP. Y. T. M. Puji Nurcahyo, CM
⛪ Pemimpin Misa: RP. Agustinus Sugiyanto,CM
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah. Perayaan ini bukan hendak meninggikan Maria di atas Allah, sebab Maria sendiri dengan rendah hati mengakui dirinya sebagai hamba Tuhan. Segala yang terjadi dalam hidupnya bukan karena kehebatannya, melainkan karena ketaatannya kepada kehendak Allah. Gereja merayakan Maria sebagai Bunda Allah untuk menegaskan satu misteri iman yang sangat mendasar, yakni misteri inkarnasi. Inkarnasi berarti Allah yang masuk menjadi daging. Daging adalah simbol kelemahan manusia, keterbatasan, dan kerapuhan hidup. Namun justru di sanalah Allah memilih untuk hadir. Allah tidak menjauh dari kelemahan manusia, tetapi masuk ke dalamnya. Ia rela menjadi sama seperti kita lemah agar kita tahu bahwa Ia sungguh memahami hidup kita. Melalui rahim Bunda Maria, Allah sungguh menjadi manusia. Artinya, Allah tidak tinggal jauh di surga yang tak terjangkau, bukan Allah yang tinggi dan sulit didekati. Ia adalah Allah yang dekat, yang mau hadir, yang mau tinggal bersama umat-Nya. Inilah iman yang kita renungkan dan hayati, terutama ketika kita menoleh ke belakang, ke tahun 2025 yang telah kita lalui.
Tahun 2025 itu bukanlah tahun yang mudah. Ada sukacita, berkat, dan rezeki yang kita terima, tetapi ada pula kesulitan, tantangan, dan persoalan yang menguji iman kita. Mungkin ada luka dalam keluarga, keretakan dalam relasi, atau pergumulan hidup yang terasa berat. Namun kenyataannya, kita bisa melewati semuanya. Itu bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena Allah yang setia menyertai kita. Sering kali kita merasa tidak berdaya, seperti terbawa arus keadaan yang berada di luar kendali kita seperti yang pernah kita alami di masa pandemi. Namun hari ini kita berdiri di sini, masih melangkah, masih diberi kehidupan. Itu adalah bukti nyata bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Karena itu, dalam perayaan Santa Perawan Maria Bunda Allah ini, kita diajak untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan. Kita belajar dari para gembala yang datang melihat Kanak-kanak Yesus dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka menyaksikan bahwa janji Allah sungguh digenapi. Dan sukacita pun memenuhi hati mereka, sehingga mereka memuji dan memuliakan Allah. Sukacita yang sama juga seharusnya hidup dalam diri kita. Kita memuji Tuhan bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena kasih-Nya selalu setia. Allah menolong kita pada waktu-Nya, meskipun sering kali rencana-Nya sulit kita pahami.
Tahun yang baru pun akan membawa pengalaman-pengalaman yang mungkin tidak kita mengerti. Akan ada peristiwa yang di luar kehendak dan perhitungan kita. Dalam situasi seperti itu, kita diajak belajar dari Bunda Maria. Ia tidak selalu langsung memahami kehendak Allah, tetapi ia menyimpan dan merenungkan semuanya dalam hati. Keyakinannya satu: Allah itu setia dan tidak pernah membiarkan umat-Nya binasa. Maka, ketika kita melangkah ke tahun yang baru, marilah kita tidak hanya membawa optimisme, tetapi juga harapan yang besar akan kemurahan Tuhan. Harapan itu bukan sikap pasif, melainkan dorongan untuk hidup lebih baik, lebih sungguh, dan lebih setia. Seperti Bunda Maria, kita dipanggil untuk berusaha dan berjua
Penulis: Geradus Tevo