HOMILI MINGGU ADVENT KETIGA, 14 DESEMBER 2025
December 31, 2025
HOMILI MINGGU ADVENT KETIGA, 14 DESEMBER 2025
Injil yang diwartakan: Matius 11:2–11
Oleh: RP Agustinus Sugiyanto, CM
Advent adalah masa rahmat, masa ketika kita diajak untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri. Tuhan pasti datang, dan kepastian itu menuntut satu sikap dasar dari kita, yaitu berjaga. Berjaga bukan berarti takut atau gelisah, melainkan hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan menapaki hidup kita setiap hari. Orang yang berjaga adalah orang yang hatinya terbuka, peka, dan siap menyambut kehadiran-Nya.
Namun berjaga saja tidak cukup. Advent juga mengajak kita menyiapkan jalan bagi Tuhan, yaitu jalan pertobatan. Pertobatan bukan perkara nanti atau kelak, melainkan sekarang. Inilah saat rahmat. Setiap keputusan untuk berubah, sekecil apa pun, adalah langkah pembuka jalan bagi Tuhan untuk masuk lebih dalam ke hati kita. Ketika pertobatan ditunda, kesempatan bisa berlalu. Tuhan datang membawa berkat, dan berkat itu hanya dapat diterima oleh hati yang mau dibersihkan.
🌟 Mari Bersukacita Menyambut Tuhan 🌟
Semakin mendekati Natal, Gereja mengajak kita untuk bersukacita. Sukacita Advent bukan kegembiraan yang dangkal, melainkan sukacita karena keselamatan sudah dekat. Seperti digambarkan dalam Kitab Suci, padang gurun yang kering akan berbunga, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, dan kepada yang miskin diberitakan kabar baik.
Kehadiran Tuhan selalu membawa pemulihan, harapan, dan hidup baru.
✝️ Menumbuhkan Kerinduan Akan Tuhan ✝️
Agar mampu menerima pemulihan itu, kita diajak menumbuhkan kerinduan yang besar akan Tuhan. Hati kita perlu menjadi seperti tanah kering yang haus akan air. Tanah yang kering akan menyerap hujan sepenuhnya, tidak membiarkannya terbuang.
Demikian pula, semakin besar kerinduan kita akan Tuhan, semakin dalam pula rahmat-Nya dapat tinggal dan bekerja di dalam hidup kita.
Dalam penantian menuju Natal, kita juga dipanggil untuk bersabar. Kesabaran yang dimaksud bukan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan kesabaran seperti petani yang setia merawat ladangnya. Ia menabur, membersihkan, memupuk, dan menunggu dengan harap sampai panen tiba.
. Kesabaran rohani menuntut ketekunan, kesetiaan, dan kepercayaan bahwa Tuhan bekerja tepat pada waktu-Nya.
Dalam penantian Adven ini, kita juga dipanggil untuk bersabar. Kesabaran yang dimaksud bukan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan kesabaran seperti petani yang setia merawat ladangnya. Ia menabur, membersihkan, memupuk, dan menunggu dengan harap sampai panen tiba.
Di tengah dunia yang serba cepat dan tidak sabar, Advent mengingatkan kita bahwa persiapan batin jauh lebih penting daripada kesibukan lahiriah.
adalah kesiapan hati menyambut Sang Juru Selamat.
Sudahkah hati kita sungguh merindukan kedatangan-Nya?
Sudahkah palungan hati kita disiapkan bagi Yesus?
Natal semakin dekat. Marilah kita menyiapkan palungan di dalam hati, palungan yang sederhana namun penuh kasih, kerendahan, dan iman.
Dengan berjaga, bertobat, bersukacita, dan bersabar, kita menyambut Kristus yang pasti datang, bukan hanya sebagai bayi di Betlehem, tetapi sebagai Penyelamat yang hadir dan memperbaharui hidup kita.
Penulis : Geradus Tevo