Renungan Hari Minggu Biasa XIV | Tahun C
July 18, 2025
Damai Sejahtera Bagi Kamu…
Pada keseluruhan bacaan liturgi hari Minggu ini, kita semua diajak dan dibawa masuk untuk melihat kunci pokok utama dari pewartaan injil hari ini, yakni menjadi agen pembawa damai di tengah-tengah dunia.
Undangan dan panggilan ini tentu tidaklah mudah. Terlebih, untuk mengamalkan cinta bakti dan mewartakan damai di tengah lingkungan, masyarakat, wilayah, komunitas, serta segenap anggota umat beriman dalam Gereja Allah itu sendiri, ini semua memiliki resiko dan dibutuhkan kerelaan, ketekunan, dan keberanian dalam diri sendiri.
Menjadi pengikut Kristus yang sejati menuntut kita menjadi pribadi Katolik yang menjadi tanda keselamatan Yesus sendiri, sebagaimana tertulis dalam bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus:
“Pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” (Galatia 6:14–16)
Untuk menjadi pembawa damai yang mengalirkan keselamatan seperti sungai, kita perlu berjuang menjawab tawaran ilahi ini. Cara agar kita tetap selalu bisa menjadi pelaku membawa damai dan menghidupi firman tersebut iyalah mau menjadi manusia yang 100% dan menjadi katolik yang 100 % secara utuh.
Dan hal ini juga ditekankan dalam bacaan dari Kitab Yesaya yang menjadi inspirasi hari ini yakni keberanian untuk menjadi insan yang memiliki kepedulian universal kepada sesama.
Dengan menjadi agen-agen anak-anak Allah dalam membawa damai, kita diajak untuk sadar dan paham bahwa kedamaian sejati berasal dari Sang Sumber Damai, yakni Allah Bapa sendiri.
Kita diminta untuk melanjutkan kegembiraan dan damai itu dalam kehidupan kita sehari-hari, karena Kristus telah menyelamatkan kita. Maka, penting untuk kita merefleksikan nya secara bersama :
Apa yang bisa aku lakukan dalam karya pelayanan dan hidup ini, agar aku dapat menjadi saksi dan utusan Allah yang setia?
Mari kita renungkan kembali apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi pelaku firman dari sabda-Nya, serta menghidupi semua nya itu dalam iman, harapan, dan kasih yang telah kita peroleh dari karunia Allah Bapa.
Dalam bacaan kedua, Paulus mengingatkan agar kita tidak menjadi mendua, karena Kristus telah masuk dalam hidup kita. Kita telah menerima rahmat dan damai dari yang Maha Indah dalam pemecahan roti dan anggur, yang menjadi benar-benar Tubuh dan Darah Kristus sendiri dalam Sakramen Ekaristi , namun jangan sampai kita sendiri enggan menjadi pelaku damai itu sendiri, Inilah yang di maksud dengan mendua.
Harapan selanjutnya iyalah kita dapat melakukan gerakan kasih dari inspirasi yang diberikan oleh Roh Kudus, kepada kita semua secara bersama-sama dalam pengharapan kepada Allah, menjadi satu keluarga besar umat beriman yang penuh dengan kegembiraan akan Allah.
Maka, mari kita berani menerima tawaran damai dari Tuhan sendiri, dengan rahmat kehidupan yang telah kita terima serta perutusan yang telah tersedia bagi kita untuk datang kepada sesama dan kepada-Nya sendiri dengan kepenuhan sebagai murid yang setia dalam setiap kelemahan dan kekurangan kita.
Mari kita menantikan penggenapan janji Allah, yaitu keselamatan dan jalan kekudusan menuju Surga, seperti para murid yang bersukacita karena nama mereka telah terdaftar di dalam kerajaan Surga.
Di mana yang terfirman kan dalam bacaan Lukas hari ini, seperti yang diwartakan oleh Yesus sendiri dalam bacaan Injil hari ini dimana Lukas menulis dan menutup Injil hari ini dengan sangat amat indah
(Lukas 10:20)
“Namun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”
Amin
Selamat Hari Minggu