Homili Hari Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Minggu 23 November 2025
November 24, 2025
Bacaan Injil
Lukas 23:35–43
Homili oleh
Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap
Di bukit Golgota, Yesus tergantung di antara dua penjahat. Dunia melihat-Nya sebagai orang yang gagal—ditolak, dihina, diejek. Para pemimpin Yahudi mencemooh, para prajurit mengolok, bahkan salah satu penjahat ikut menghina: “Selamatkanlah dirimu!”
Mereka semua memakai kacamata manusia: kalau Engkau benar, buktikan; kalau Engkau berkuasa, tunjukkan; kalau Engkau Mesias, lepaskan diri-Mu.
Namun Injil Lukas memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: ketika manusia menuntut bukti, Allah justru menunjukkan kasih yang berdaulat. Salib—yang tampak seperti kekalahan—justru menjadi takhta Raja Semesta Alam.
Dua Respons Manusia terhadap Yesus
Dua penjahat, dua salib, dua nasib—dan dua pilihan hati.
Penjahat Pertama:
“Kalau Engkau Mesias, selamatkanlah diri-Mu dan kami!”
Ia menuntut mukjizat. Ia ingin bukti, bukan pertobatan.
Ia melihat Yesus hanya sebagai jalan keluar dari penderitaan, bukan sebagai Raja yang menyelamatkan.
Penjahat Kedua:
“Yesus, ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja.”
Ia mengakui kebenaran. Ia melihat apa yang tidak dilihat orang banyak:
bahwa Yesus bukan sekadar korban, tetapi Raja yang tak bersalah,
yang kuasa-Nya tampak dalam kerendahan hati dan pengorbanan.
Dengan tubuh penuh luka dan rasa sakit yang tajam,
ia tetap berani berharap. Tidak ada tuntutan, tidak ada syarat—hanya hati yang merindukan belas kasih.
Jawaban Yesus: Kasih Sang Raja yang Tidak Menunda
Yesus berkata:
“Hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.”
Tidak ada penghakiman.
Tidak ada syarat tambahan.
Tidak ada penundaan.
Sang Raja menerima dia saat itu juga.
Inilah kebesaran Kerajaan Allah—kasih-Nya lebih cepat daripada penyesalan manusia,
dan rahmat-Nya lebih besar daripada dosa kita.
Pesan Bagi Kita Hari Ini
Perayaan Yesus Kristus Raja Semesta Alam mengajak kita untuk melihat bahwa:
-
1
Kerajaan Allah dibangun bukan dengan pedang, tetapi dengan kasih dan pengampunan.
Renungkan: tindakan kasih kecil sehari-hari lebih berbicara daripada retorika besar. -
2
Kuasa Yesus tampak paling jelas ketika Ia menyerahkan diri bagi dunia.
Renungkan: kelemahlembutan dan pengorbanan adalah bentuk kuasa yang menyelamatkan. -
3
Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Raja yang penuh belas kasih.
Renungkan: harapan tetap terbuka—satu kata tobat dapat mengubah hidup. -
4
Raja kita melihat hati, bukan masa lalu.
Renungkan: fokuskan hati pada kebaikan yang sedang tumbuh, bukan sekadar kesalahan lampau. -
5
Ia merangkul bukan karena kita layak, tetapi karena Ia baik.
Renungkan: terima pelukan kasih Allah dengan kerendahan hati dan bagikan kasih itu kepada orang lain.
Undangan untuk Merenungkan
Renungan yang berasal dari dialog dan pesan homili: sebuah panggilan hati untuk bertobat dan berserah kepada Raja kita.
Setiap dari kita berada di salah satu sisi salib itu. Kadang kita seperti penjahat pertama — menuntut Tuhan bekerja sesuai keinginan kita. Kadang kita seperti orang banyak — menghakimi dari jauh. Namun Sang Raja mengundang kita menjadi seperti penjahat kedua:
datang dengan hati yang rendah, mengakui kebutuhan kita akan Dia, dan berserah kepada kasih-Nya.
Kiranya renungan ini meneguhkan kita pada Hari Minggu Yesus Kristus Raja Semesta Alam: bahwa Sang Raja yang tergantung di salib adalah Raja yang mengenal nama kita, mendengar seruan kita, dan membuka pintu Kerajaan-Nya bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.
Baca perlahan kalimat itu kembali — biarkan tiap frasa diam sejenak di hati. Tarik napas, pejamkan mata bila perlu, dan tanyakan pada diri: Adakah sesuatu yang ingin kukembalikan kepada Tuhan hari ini?
Doa singkat: Tuhan Raja, ajar kami datang kepada-Mu dengan hati yang rendah. Ingatlah kami dan bawa kami ke dalam Firdaus-Mu. Amin.